Meningkatnya inflasi China, serta menurunya pertumbuhan ekonomi di negara tirai Bambu tersebut merupakan kesempatan Indonesia untuk lebih dapat bersaing dengan industri China.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brojonegoro mengatakan, dengan tingginya inflasi di Cina maka akan timbul ekspektasi produksi yang terjadi di China akan semakin mahal.
"Sehingga Indonesia bisa sama kompetitifnya dengan Cina," ungkap Bambang di kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, akhir pekan kemarin.
Bambang menambahkan, inflasi China tidak akan berpengaruh langsung pada Indonesia, pasalnya saat ini neraca perdagangan dengan China masih mengalami kerugian. "Artinya volume perdagangan Indonesia-China itu masih tinggi sekali," papar dia.
Dijelaskannya, saat ini yang menjad penopang perekonomian Indonesia dengan China lebih banyak pada sektor perdagangan. "FDI hampir tidak ada, sedikit sekali. Terus surat-surat berharga apalagi," urainya,
Namun dia mengingatkan, jika ancaman inflasi yang terjadi di China juga merupakan ancaman inflasi global. Dengan kata lain sewaktu-waktu inflasi juga akan melanda Indonesia.
Karenanya, dia menilai diperlukan kebijakan terkait persedian stok pangan untuk mengatisipasi hal tersebut. "Kalau ancaman inflasi sudah ancaman global ya, tinggal kita menyiasati persediaan beras," jelas Bambang.
Menurut dia, tingginya harga beras saat ini memang tergantung dari impor. Kuncinya, kata dia, bagaimana pemerintah menjaga produksi beras. "Pastikan kita bisa mengelola produksi nasional dengan bagus," tuntasnya.
(and/okz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar